Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Februari 2016

Ahok dan Yusril, Bersatulah!






Jakarta itu bagaikan Saphira Tatjana di antara geng Aagaban. Paling molek dan diperebutkan. Tak jarang ada konflik untuk menguasai seutuhnya. Siapa yang ingin menguasainya harus mengerti benar seluk-beluk dan tata cara kehidupannya. Kalau tidak, doi tidak akan bertahan lama, paling yaaa dua tahun saja, setelah itu pindah ke Dian Sastro yang lebih berpengalaman dari Tatjana. Setidaknya, begitulah yang bisa digambarkan dari Jakarta, ibukota Republik Indonesia.

Akhir-akhir ini ramai sekali berita tentang Jakarta, sebenarnya bukan akhir-akhir ini, sih. Hampir sepanjang hari, sepanjang minggu, hingga sepanjang tahun isi berita di Indonesia bersettting Jakarta. Jakartacentris. Tapi, tidak apalah, yang penting wong ngapak mesti bangga nganggo ngapak. Ya ora?
Tahun 2017 nanti, Jakarta akan menggelar pilkada memilih gubernur barunya, setelah ditinggal dari gubernur aslinya 2014 lalu ke Istana, kemudian digantikan oleh Ahok sang wakilnya. Biarpun masih berjuta-juta detik lagi pilkada itu digelar, permainan politik sudah dimulai dari sekarang. Calon yang mencuat pun bikin pengin makan Chitato rasa Mi Goreng. Sebut saja ada Ahmad Dhani, Eko Patrio, Dessy Ratnasari, Ridwan Kamil, Adhyaksa Dault, Tri Rismaharini, Yusril Ihza Mahendra, bahkan Ahok sendiri bakal nyalon lagi di pilkada Jakarta 2017.

Tapi, daku tidak akan membahas enam nama pertama karena sesuatu; hempas datang lagi, hempas datang lagi. Daku akan membahas Yusril Ihza Mahendra dan Basuki Tjahaja Purnama. Dua nama populer di Indonesia ini digadang-gadang akan bertarung memperebutkan “Tatjana”. Ada yang bangga berkabar ke media kalau dia sudah dapat pinangan dari beberapa partai, ada juga yang ingin mengambil jalur independen. Yuk, bahas, yuk! 

Pertama. Yusril Ihza Mahendra. Beliau kelahiran Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956. Kita kasih ucapan ulang tahun dulu ke Pak Yusril. Selamat ulang tahun ke 60 tahun, Prof! Profesor Hukum kenamaan Indonesia ini belakangan tengah aktif membela kapal asing yang diduga maling ikan di perairan Indonesia. Karena hal ini, ia sempat terlibat cek-cok di dunia maya dengan Bu Susi sang Menteri Kelautan dan Perikanan. Oya, bagaimana kabarnya berita ini sekarang?
Perjalanan politik Yusril sudah tidak diragukan lagi. Pernah menjabat ketua OSIS pada SMP dan SMA. Pernah menjabat menteri sekretaris negara satu kali. Menteri Hukum dan HAM dua kali. Ia merupakan ketua umum Partai bulan Bintang hingga tahun 2005. Istrinya juga cantik sekali. Eh.

Kedua. Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok. Daku tidak mengerti awal mula dia dipilih jadi wakilnya Bapak Presiden Joko dulu waktu nyalon gubernur Jakarta tahun 2012, tapi yang pasti dia tidak bisa bahasa ngapak. Tidak nyambung ya biarkan saja, tho. Ahok dilahirkan di Gantung, Belitung Timur, tanggal 29 Juni 1966. Masa kecilnya dihabiskan di Gantung dan sekitar tahun 1980-an melanjutkan SMA di Jakarta. Pernah menjabat jadi anggota DPRD Kabupaten Belitung, anggota DPR RI dari Partai Gerindra, dan mantan Bupati Belitung Timur. Saat menjabat bupati Belitung Timur, ia membuat terobosan yang sangat berguna, yakni pendidikan dan kesehatan GRATIS bagi seluruh penduduk Belitung Timur. Sekarang ia menjabat sebagai Gubernur Jakarta, jadi kalau dia nyalon gubernur lagi ya statusnya incumbent.

Dua paragraf di atas cukup menggambarkan keduanya dalam persaingan menuju #Jakarta1 nanti. Tapi menurut hemat daku, Ahok dan Yusril harus bersatu menjadi satu pasang calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Kenapa? Setidaknya ada tiga kesamaan yang ditemukan dari kedua tokoh ini. Sekarang kita bahas kesamaan keduanya, yuk!

Pertama, keduanya sama-sama dilahirkan di Belitung Timur, tempat syuting film fenomenal Laskar Pelangi. Hal ini akan mungkin membuat keduanya merasa sungkan untuk mengalahkan satu sama lain. Jadi, menjadi pasangan adalah jalan tengahnya. Kedua, sama-sama memiliki istri yang cantik. Bu Tan istri Ahok dan Bu Kato istri Yusril.  Coba bayangkan, betapa bangganya rakyat Jakarta memiliki ibu provinsi yang cantik-cantik. Pasti nurut deh kalau disuruh jangan bawa mobil pribadi kalau ngantor. Ketiga, sama-sama ingin berjuang untuk kepentingan rakyat Jakarta. Ya sudah pak, kalau mau berjuang untuk rakyat ya jadi yang kedua juga ndak papa, tho. Semuanya pasti bisa dikomunikasikan, kok. Ya, itupun kalau memang tulus dan ikhlas berjuang untuk rakyat, sih, pak.
Sebenarnya masih banyak sih kesamaan Ahok dan Yusril ini kalau ditelisik lebih jauh. Tapi daku sudah malas untuk menulisnya. Teman-teman bisa cari sendiri di google, kan? Iyalah pasti. Pesan daku cuma satu pak, lebih baik jadi yang kedua tapi diutamakan, daripada jadi yang utama tapi diduakan.

Rabu, 20 Januari 2016

Masa Depan Pariwisata Indonesia di Era MEA


Pantai Tanjung Kelayang, Borobudur, Bali, dan Air Terjun Sri Gethuk (searah jarum jam)

Tanggal 31 Desember 2015 lalu, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah resmi berlaku tanpa perayaan yang spektakuler. Dengan berlakunya MEA, maka arus keluar-masuk antar negara di kawasan Asia Tenggara menjadi sangat bebas; barang, jasa, dan manusia. Hal ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari oleh semua negara anggota ASEAN supaya tidak kalah bersaing dalam ‘merebut pasar’ MEA ini. Salah satu bidang yang sangat mempengaruhi dan juga diperebutkan oleh negara-negara ASEAN adalah pasar pariwisata, karena tidak dipungkiri, ciri khas alam dan budaya di ASEAN mempunyai kemiripan satu sama lain sehingga setiap negara berlomba-lomba untuk mengemas dunia pariwisata mereka semenarik mungkin untuk menarik wisatawan berkunjung ke negaranya.

Di Indonesia sendiri, pariwisata termasuk dalam lima besar sumber pemasukan terbesar bagi devisa negara berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang diutarakan oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia, di Republika Online pada tanggal 16 Oktober 2015 dengan nilai mencapai 140 triliun rupiah. Nilai ini naik 20 triliun rupiah dibandingkan tahun sebelumnya yakni 120 triliun rupiah. Kemudian, jika dilihat dari angka kunjungan wisatawan mancanegara, terlihat kenaikan angka kunjungan wisman di periode yang sama yakni Januari-Juli, dari 5.319.732 wisman tahun 2014 ke angka 5.472.050 wisman tahun 2015. 

Mari kita bandingkan dengan angka kunjungan wisman di beberapa negara ASEAN yang menjadi ‘lawan’ Indonesia dalam merebut pasar pariwisata dalam rangka MEA. Menurut www.world-statistics.org, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Asia Tenggara pada tahun 2012 terbanyak diraih oleh negara Malaysia dengan angka 25.033.000 wisatawan mancanegara (wisman), disusul oleh Thailand dengan angka 22.354.000 wisman, Singapura dengan angka 11.098.000 wisman, dan Indonesia dengan angka 8.044.000 wisman. Kemudian pada tahun 2013, menurut otoritas pariwisata masing-masing negara, Indonesia masih berada di posisi ke-4 dengan angka kunjungan wisman 8.802.129, sedangkan posisi pertama direbut oleh Thailand dengan angka 26.546.725 wisman, disusul oleh Malaysia dengan angka 25.720.000 wisman, dan posisi ketiga oleh Singapura dengan angka 15.567.923 wisman. Angka-angka ini setidaknya telah menjadi tolak ukur bagaimana setiap negara itu mengemas pariwisata mereka sedemikian rupa sehingga para wisatawan mancanegara itu tertarik untuk mengunjungi negara tersebut.

Indonesia sebagai negara dengan potensi pariwisata yang sebenarnya lebih potensial dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, seharusnya bisa mendapatkan angka wisman yang lebih banyak. Hal yang perlu dipelajari dari mereka adalah bagaimana strategi mereka mengemas dan memasarkan potensi pariwisata mereka yang terbatas itu ke panggung pariwisata dunia. Seperti contoh, negara Gajah Putih, Thailand. Negara itu memiliki beberapa kemiripan dengan Indonesia di beberapa bidang pariwisata, seperti wisata bahari dan wisata sejarah. Namun, kenapa para wisman lebih memilih Thailand daripada Indonesia? Jawabannya adalah karena mereka memiliki strategi untuk memoles pariwisatanya sangat apik dengan kemasan dan layanan yang memuaskan. Dengan sangat mudah kita menemukan informasi pariwisata tentang Phuket, Thailand daripada informasi pariwisata tentang Raja Ampat, Papua atau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Padahal ketika dibandingkan secara fisik, keindahan Raja Ampat dan Sumba lebih mumpuni daripada keindahan Phuket.

Tol Laut Sebagai Wisata Khusus untuk Menarik Wisman
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak sekali sumber daya bahari yang layak untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisman. Hal ini sangat berbeda dengan negara lain di ASEAN yang wilayah perairannya tidak seluas Indonesia. Pada pemerintahan Jokowi saat ini, telah dicanangkan untuk membuat ‘tol laut’ yang fungsi utamanya adalah untuk mengefisienkan waktu antar barang dari tempat produksi ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, terutama Indonesia bagian timur. Dengan adanya ‘tol laut’ ini, dimungkinkan harga-harga kebutuhan pokok di daerah timur Indonesia bisa lebih murah dari sekarang karena tidak ada bongkar muat barang berkali-kali yang menyebabkan pembengkakan biaya dan otomatis mempengaruhi harga barang tersebut ketika sudah didistribusikan ke masyarakat.

Dari ide Jokowi ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai salah satu strategi pengemasan pariwisata Indonesia. Caranya adalah memakai jalur ‘tol laut’ tersebut untuk pariwisata minat khusus, yang mana jalur tersebut dipakai untuk membawa wisman berkeliling Indonesia memakai moda transportasi laut. Sebagai contoh, rute perjalanan langsung (direct) dari daerah Sumba ke daerah Bunaken,  Belitung ke Berau, bahkan bisa membuat rute dari Banda Neira ke Raja Ampat. Dengan adanya ‘tol laut’ yang menghubungkan kedua daerah, dengan sangat mudah wisman bisa bergerak untuk mengunjungi tempat lain setelah tempat sebelumnya sudah selesai dikunjungi. Karena melihat keadaan sekarang yang mengharuskan wisman untuk berpindah-pindah transportasi dalam mencapai tujuan daerah wisatanya sangat menyusahkan dan besar resiko untuk wisman tersebut membatalkan rencananya mengunjungi daerah tersebut. 

Wisman sendiri sangat menyukai hal-hal yang bersifat tradisional dan alami, karena salah satu tujuan mereka berwisata ke negara dunia ketiga seperti Indonesia adalah sisi budaya dan tradisionalitasnya itu. Dengan menggunakan ‘tol laut’, para wisman bisa melihat betapa luas dan indahnya kepulauan Indonesia sehingga mereka bisa merasakan sensasi berada di tengah lautan berhari-hari, merasakan sunrise ke sunset hingga sunrise lagi setiap harinya. Butuh sesuatu yang berbeda untuk hal yang mengagumkan. dengan adanya ‘tol laut’ sebagai salah satu strategi pengemasan pariwisata, diharapkan pariwisata Indonesia bisa bersaing dengan negara lain di ASEAN dalam rangka memenangkan persaingan di Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Tantangan yang Dihadapi
Kekayaan sumber daya alam Indonesia sudah tidak bisa diragukan lagi, namun kurang didukung dengan sumber daya manusia yang dimiliki, terutama di bidang pariwisata. Berbeda dengan SDM yang ada di negara-negara ASEAN lain seperti Singapura, Thailand, ataupun Malaysia sekalipun. Orang-orang di sana sudah sangat sadar bahwa pariwisata merupakan salah satu masa depan negara mereka yang sangat menjanjikan. Hal yang penulis soroti di sini bukanlah sumber daya manusia dari segi kuantitas, namun dari segi kualitas. Masih banyak manusia Indonesia yang tidak peduli dengan daerah sekitarnya yang menjadi tujuan wisata, berlevel nasional maupun internasional. Penulis tidak akan membahas tentang Bali yang sudah menjadi andalan pariwisata Indonesia sejak dulu kala, namun daerah-daerah yang menjadi prioritas dan andalan pemerintah Indonesia dalam mengeruk pemasukan bagi negara yakni Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Kepulauan Seribu (Jakarta), Danau Toba (Sumut), Wakatobi (Sultra), Tanjung Lesung (Banten), Morotai (Maluku Utara), dan Tanjung Kelayang (Belitung).

Ambil contoh Tanjung Kelayang di Belitung. Tempat ini terkenal karena meledaknya film Laskar Pelangi pada tahun 2008. Sejak saat itu, pariwisata di Belitung berkembang pesat. Ribuan wisatawan mulai berdatangan ke Belitung setiap bulannya. Bahkan, ada banyak penduduk yang beralih mata pencarian, yang semula penambang timah, beralih menjadi pelaku pariwisata. Namun, kesiapan pemerintah dan juga kualitas sumber daya manusia yang dimiliki untuk mengelolanya dirasa belum mampu untuk mewujudkan pariwisata Belitung yang maju. Penyebabnya bermacam-macam, tapi yang paling utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya masa depan pariwisata yang mempunyai keberlanjutan dimasa depan.

Dari semua hal di atas, untuk merebut pasar pariwisata di era MEA sekarang ini sebenarnya cukup mudah. Harus adanya sinergi dari berbagai pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia pariwisata, dari yang pembuat kebijakan sang Pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pariwisata, hingga ke kelompok sadar wisata di daerah masing-masing. Jika semua pihak ini bersinergi dan mengabdikan diri seutuhnya pada kemajuan pariwisata Indonesia, pasar pariwisata ASEAN akan sangat mudah diraih. Jika semuanya sudah bersinergi, target pemerintah untuk mendatangkan 20 juta wisman pada tahun 2019 sangatlah mudah untuk dicapai.

..........................................
Tulisan ini juga dipublikasikan di sini

Senin, 18 Januari 2016

Digitalisasi Transportasi di Yogyakarta



sumber gambar di sini


Kemajuan teknologi sudah tidak bisa dielakkan lagi di abad 21 ini. Hampir semua sendi-sendi kehidupan manusia modern dirasuki dengan teknologi yang berkembang sangat cepat. Kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung mulai akrab dengan Gojek dan aplikasi transportasi online lainnya, walaupun beberapa waktu lalu sempat dilarang keberadaannya oleh pemerintah. Dengan Gojek, masyarakat bisa dengan mudah memesan layanan antar jemput itu hanya dengan beberapa sentuhan.

Kemudahan-kemudahan itu juga mulai terlihat di Yogyakarta beberapa waktu terakhir. Gojek mulai masuk ke Yogyakarta dan hal ini memudahkan mahasiswa dan masyarakat umum yang haus dengan transportasi yang mudah, aman, dan nyaman. Tidak hanya Gojek, beberapa waktu lalu, hadir juga aplikasi layanan ojek asli buatan warga Yogyakarta, OjekJogja (BangJek) ciptaan siswa kelas 12 SMA Muhammadiyah 1 Prambanan. Walaupun pemasarannya belum sampai membuat aplikasi berbasis android, tetapi ia memanfaatkan media sosial sebagai strategi pemasaran ojeknya. Selain moda transportasi roda dua, moda transportasi roda empat juga menyediakan hal serupa. Penyedia layanan taksi lokal di Yogyakarta mulai meluaskan pasar mereka dengan membuat aplikasi pemesanan taksi berbasis android. Sampai sekarang, sudah ada dua penyedia aplikasi layanan taksi di Yogyakarta, sayTaxi dan Pantega.

Menurut salah satu supir sayTaxi yang tidak mau disebutkan namanya, lonjakan konsumen sebelum dan setelah adanya aplikasi pemesanan online sangat signifikan. “Sebelum ada aplikasi online hanya 10 konsumen dalam sehari, setelah ada aplikasi bisa sampai 20 orang,” katanya. Menurutnya lagi, setelah ada aplikasi pemesanan online, konsumen yang menggunakan jasanya juga lebih banyak dari kalangan mahasiswa yang sebelumnya dari kalangan umum saja. “Adanya aplikasi ini sangat memudahkan masyarakat di tengah transportasi umum di Yogyakarta yang belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” cetusnya lagi.

Yogyakarta yang didiami oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia memang sudah menyediakan transportasi umum, yaitu Trans Jogja. Namun, Trans Jogja hanya memiliki rute di dalam kota saja dan belum menjadi pilihan utama transportasi masyarakat Yogyakarta. Selain itu, Trans Jogja juga dianggap belum nyaman oleh sebagian penggunanya disamping supirnya juga kadang ugal-ugalan di jalanan. Keadaan fisiknya pun masih dianggap belum layak untuk melayani masyarakat. Menurut Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Trans Jogja, Agus Minang, sampai tahun 2015, hanya ada 74 armada bus Trans Jogja yang melayani masyarakat di kota Yogyakarta dalam lima trayek. Namun, jumlah ini akan ditambah hingga 165 bus pada tahun 2016 ini. (Harianjogja.com tanggal 15 Januari 2015).

Akibat keadaan seperti di atas, makin banyak masyarakat Yogyakarta yang memilih untuk menggunakan transportasi yang menggunakan aplikasi online. Lebih mudah, aman, dan nyaman daripada transportasi umum yang disediakan di Yogyakarta. “Adanya aplikasi online ini malah membantu pemerintah Kota Yogyakarta dalam menyelesaikan masalah kemacetan di Yogyakarta, daripada harus memakai kendaraan pribadi yang malah menyebabkan polusi di Yogyakarta tambah parah,” lanjut supir taksi sayTaxi.

Menurut penulis, lebih baik memperbaiki kondisi Trans Jogja daripada harus mempercantik titik 0 km dengan batu-batu andesit yang urgensinya tidak terlalu tinggi. Dengan memperbaiki kondisi Trans Jogja, masyarakat dan wisatawan tidak akan berpikir dua kali jika ingin memakainya. Pemerintah dan pihak pengelola Trans Jogja juga bisa kerjasama dengan developer untuk mengembangkan Trans Jogja menjadi berbasis online seperti di Jakarta atau Singapura, rute atau trayek diperbanyak, dan pelayanan ditingkatkan. Dengan begitu, Jogja Istimewa akan mudah terwujud secara nyata.

..............................................................................................
Tulisan ini sudah dimuat di sini

Rabu, 14 Oktober 2015

Car Free Day : Yakinkah Bermanfaat?



(sumber gambar disini)

Kegiatan ini mulai menjamur diadakan di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Yogyakarta, dan ibukota Jakarta. Car Free Day sendiri pertama kali dilaksanakan oleh Belanda pada hari Minggu, 25 November 1956. Di Indonesia, kegiatan ini pertama kali dilaksanakan di Jakarta, tepatnya di jalan Iman Bonjol. Kegiatan ini berhasil dilaksanakan setiap tahunnya, sampai pada tahun 2003, sebanyak 1500 di seluruh dunia melaksanakan Car Free Day secara serempak dan diikuti oleh lebih dari 112 juta umat manusia.

Namun, melihat perkembangan jaman dan perubahan pola hidup masyarakat sekarang ini, Car Free Day masih banyak manfaatnya?  Dari sisi positif, Car Free Day memang bisa berkontribusi untuk sedikit mengurangi polusi udara, itu pun hanya satu hari saja, bahkan itu juga tidak penuh selama 24 jam. Car Free Day di Jakarta sekarang berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Nomor 380 Tahun 2012 tentang Penetapan Lokasi, Jadwal dan Tata Cara Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Provinsi DKI Jakarta hanya menetapkan waktu Car Free Day berlangsung dari pukul 06.00-11.00 saja.

Car Free Day sekarang ini juga bukan dijadikan sebagai ajang olahraga, namun dijadikan sebagai ajang gaya-gayaan bagi anak muda. Belum lagi jika mereka membawa makanan dan minuman, sampahnya pasti akan ditinggalkan oleh mereka di tempat mereka makan dan minum itu. Selain itu, karena pelaksanaan Car Free Day berakhir pukul 12.00 siang, maka penumpukan kendaraan di sekitar jalan tempat berlangsungnya Car Free Day pun menjadi padat dan membuat kemacetan. Menurut carfreedayindonesia.org, penumpukan kendaraan ini akan menyebabkan kenaikan emisi dan polusi secara cepat dan signifikan. Hal ini akan mengakibatkan udara menjadi lebih berpolusi dari hari-hari sebelumnya.

Tahun 2014 lalu, di Surabaya juga dilaksanakan Car Free Day di daerah Taman Bungkul. Car Free Day ini dilaksanakan oleh salah satu perusahaan es krim di Indonesia. Car Free Day ini membuat Walikota Risma marah karena Taman Bungkul rusak diinjak-injak warga saat berebut es krim gratis dari penyelenggara. Selain membuat kemacetan di sekitar Taman Bungkul, tanaman dan pohon-pohon di Taman Bungkul juga rusak akibat dari Car Free Day ini.

Sebenarnya, jika Car Free Day benar-benar dilaksanakan sebagai salah satu cara manusia untuk mengurangi polusi dan emisi di dunia ini, maka hasilnya akan sangat baik. Namun, jika kegiatan ini diikuti dengan kelakuan yang tidak semestinya, lebih baik Car Free Day tidak perlu dilaksanakan.
Masih banyak cara kita untuk bisa membantu mengurangi polusi dan keberlanjutan lingkungan kita. Hal mudah yang sehari-hari bisa kita lakukan adalah membawa tas belanja sendiri ketika belanja bulanan ataupun harian, dengan begitu, kita sudah bisa mengurangi penggunaan plastik yang sulit dicerna oleh bumi. Selain itu, meminimkan penggunaan tissue dan sedotan juga bisa membuat bumi kita sehat. Memang, hal-hal tersebut dirasa kecil dan mudah, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Namun, ketika hal-hal kecil tersebut kita lakukan bersama-sama, maka perubahan yang akan terjadi juga akan besar, bahkan bisa melebihi Car Free Day yang hanya dilakukan pada hari Minggu dan beberapa jam saja. Mari galakkan hidup sehat dan selamatkan lingkungan kita dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab! SALAM LESTARI!

Minggu, 26 April 2015

Mari Berubah Untuk Bumi yang Lestari!


 Lingkungan menjadi salah satu isu global kontemporer yang mulai banyak dibicarakan oleh orang-orang, kecil-besar, pria-wanita, kakek-nenek; semua orang. Bagaimana tidak, tempat kita hidup ini telah banyak dinodai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari menebangi pohon secara ilegal yang menyebabkan hutan-hutan menjadi gundul, limbah-limbah pabrik yang mengalir ke arah pemukiman warga menyebabkan air tercemar, adanya polusi udara dan suara yang makin banyak terjadi bukan hanya di daerah perkotaan saja, tetapi juga telah merambah ke pedesaan-pedesaan, sampai kepada hal-hal kecil, yakni buang sampah sembarangan.

Pemerintah telah mengeluarkan UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang didalamnya berisi sanksi yang harus ditanggung pelaku jika melakukan penebangan pohon secara ilegal. Sanksi itu diatur dalam pasal 78 angka (1) sampai dengan angka (13). Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan tentang hukuman bagi pembuang sampah sembarangan. Ya, walaupun hanya sebatas di kawasan Jabodetabek. Seperti yang tertera pada Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013 tentang Kebersihan yang mengharuskan warga membayar denda 150.000 dan peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang mengharuskan pedagang kaki lima yang membuang sampah sembarangan membayar denda 100.000.

Kita sebagai pemuda Indonesia yang dimasa depan akan memimpin negara ini seharusnya sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Menjaga lingkungan tidak hanya sebatas membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga menyadarkan orang-orang sekitar kita bagaimana cara membuang sampah yang tepat, tidak hanya benar. Menurut saya, kalimat 'Buanglah sampah pada tempatnya' itu harus segera diubah dalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat kita. Karena kata tempatnya itu bisa ditafsirkan bermacam-macam. Jika orang yang acuh tak acuh, kata tempatnya bisa diartikan dimana saja, termasuk tempat umum. Jika orang yang acuh mungkin akan menganggap tempatnya itu ya di tempat sampah. Sebaiknya kalimat itu diganti dengan 'Buanglah sampah di tempat sampah'.

Terkait dengan menyadarkan orang-orang sekitar kita tentang lingkungan memang lumayan sulit. Karena orang-orang Indonesia sudah sangat mengakar budaya membuang sampah sembarangan. Kesalahan yang terus-menerus dilakukan sehingga dianggap benar oleh khalayak. Diperlukan waktu yang lama untuk bisa mengubah kebiasaan ini. Selain membuang sampah, hal kecil yang akan membuat bumi menjadi lebih 'dingin' ialah mengurangi penggunaan sedotan, botol plastik, dan benda-benda sekali pakai yang terbuat dari plastik. Memang ini adalah hal kecil, tetapi jika hal kecil itu kita lakukan bersama-sama, percayalah akan membawa dampak besar bagi ketahanan bumi kita ini.

Kita memang tidak akan mungkin menghilangkan plastik dari kehidupan kita, tetapi setidaknya bisa mengurangi penggunaannya. Seperti yang diceritakan oleh teman saya yang juga menjabat sebagai ketua salah satu organisasi berbasis lingkungan di Yogyakarta. Kita analogikan orang gemuk yang ingin menurunkan berat badan itu sebagai kita yang ingin diet plastik. Dia tidak mungkin menghilangkan nasi atau karbohidrat sama sekali dalam menu makanannya, tetapi dia akan berusaha untuk mengurangi kuantitasnya ke dalam tubuhnya. Begitu juga dengan kita. Tidak mungkin kita bisa lepas dari yang namanya plastik. Tapi, bukan tidak mungkin kita bisa mengurangi pemakaiannya dengan membawa tas sendiri misalnya.

Banyak cara yang bisa kita lakukan guna menyelamatkan Bumi kita ini, misalnya membawa tas sendiri jika ingin berbelanja, membawa botol air minum atau tumbler, memanfaatkan kertas bekas, dan masih banyak yang lainnya. Saat ini juga banyak bermunculan organisasi-organisasi yang berbasis lingkungan. Contohnya adalah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), World Wildlife Fund, Earth Hour, Greenpeace, dan masih banyak yang lainnya. Dasarnya tujuan mereka sama : bagaimana caranya supaya bumi ini lestari, hijau, dan berseri lagi seperti dahulu kala, dan ingin menjamin bahwa dimasa depan anak dan cucu kita masih bisa merasakan sejuk dan segarnya udara dimana ia hidup. Dengan munculnya berbagai organisasi tersebut, diharapkan mampu untuk menggerakkan massa yang lebih banyak supaya lingkungan kita terjaga dan jauh dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Tetapi, dengan bergabung ke organisasi-organisasi itu belum serta merta menjadikan kita orang yang paling peduli terhadap lingkungan. Bahkan, ada yang ikut organisasi lingkungan, tapi hal itu hanya untuk gaya-gayaan khas anak muda jaman sekarang. Seperti kata teman satu organisasi saya, bahwa gaya hiduplah yang menentukan kita bisa dikatakan peduli atau tidak dengan lingkungan.

Mari berubah untuk bumi yang lestari! Jangan malu untuk mengatakan tidak saat ditawari menggunakan plastik oleh pelayan supermarket. Jangan malu untuk langsung minum dari gelas tanpa sedotan. Jangan iba mengambil sampah yang ada didekatmu lalu buanglah di tempat sampah terdekat. Jika kita bersatu, niscaya bumi kita akan segar kembali.

Kamis, 16 April 2015

Betapa Ngerinya Negeri Ini!




Terik panas dan perut yang mengaum mengantarkanku ke arah penjaja makanan yang banyak berada di belakang kampus. Jalanan ramai dengan lalu lalang motor dan pejalan kaki yang aku taksir juga merasakan hal yang sama denganku : lapar. Walaupun sudah tinggal selama hampir dua tahun disini, aku masih belum terlalu hafal dimana tempat makan yang patut dikunjungi untuk jam-jam saat itu. Setelah lama berpikir sambil menunggangi motorku yang lama tidak diservice, aku memutuskan untuk makan di tempat biasanya. Ada lauk kesukaanku disana : ayam bumbu hijau pedas. Tempat makannya sempit, tapi di tepi jalan.Bapak penjaganya ramah dan baik. Istrinya juga cantik, tipikal-tipikal wanita incaran para pria saat masih SMA. Lauk-pauknya masih berasap ketika aku datang. Kalau aku punya dua perut, akan aku cicipi semua lauk yang terhidang di etalase itu.

"Pak, bungkus!"

Dengan sigap bapak penjaga warung makan itu melayaniku. Aku memilih lauk tempe kering, sayur kangkung, sambal, dan tentunya ayam bumbu hijau pedas. Tak lupa aku sisipkan tempe goreng yang juga masih berasap ke dalam bungkusan makananku sebelum dijepret bapaknya. Aku juga memesan sebungkus es jeruk untuk menguras mulutku nanti ketika seusai makan. Makanan di tempat ini serasa makanan warungku di Purwokerto, walaupun tidak sama persis. Karena itu, setiap aku makan di tempat ini aku teringat dengan warungku disana.

Sembari menunggu es jerukku diracik, aku melongok ke dalam rumah pemilik warung makan itu. Terlihat  jelas ada seorang anak kecil, sebut saja namanya Dicky, yang menunggui ibunya meracik es jeruk pesananku. Aku longok semakin dalam, Dicky sedang menyaksikan dan mendengarkan lantunan lagu anak-anak yang terdengar ceria sekali. Lagu anak-anak itu dikemas dalam sebuah video klip yang sangat apik. Di video klip, anak kecil berumur sekitar 7 tahun digambarkan sedang asik bermain robot-robotan bersama tiga teman lainnya. Mereka berputar ceria tertawa lepas sambil memegang robotnya masing-masing, membuat setiap orang yang melihatnya pasti ingin tertawa; minimal tersungging. Aku pun juga awalnya tidak bisa menyembunyikan sungginganku, sampai akhirnya aku berpikir bahwa inilah yang seharusnya dilakukan oleh anak kecil seumur mereka!

Aku terlempar ke memoriku sepuluh tahun yang lalu. Saat aku seumuran dengan Dicky, aku pasti sedang bersama dengan teman-temanku. Bermain gundu (kelereng), badok, tepok lelek, bahkan main balon. Banyak hal yang bisa terjadi ketika kami -aku dan temanku- bermain bersama. Pernah suatu hari ketika kami bermain tepok lelek, aku menjadi penangkap dan temanku jadi penolak. Ketika aku hampir menangkap umpannya dengan tangan kiriku sambil meloncat, aku terjerembab ke tanah bercampur bebatuan. Kenapa aku sebut dengan tangan kiri? Karena kalau menangkap dengan tangan kiri poinmu akan lebih tinggi daripada menangkap dengan tangan kanan. Sakit, perih, dan aliran darah langsung teralir di pelipis kananku; pelipisku menghentak ke bebatuan.

Kadang, hal semacam itulah yang membekas dibenak, daripada mendapatkan uang banyak ketika bermain CoC. Kebersamaan dengan temanmulah yang akan kamu kenang, daripada teman imajiner ketika bermain game online. Aku tidak mengatakan bahwa game online atau CoC itu tidak bisa dikenang oleh orang yang memainkannya. Tapi, bisa aku pastikan, ada rasa yang berbeda ketika kamu bermain dengan teman nyata dan segala kelakuan usilnya, daripada bermain dengan teman imajiner yang tak tahu bagaimana rimbanya.

Kembali ke video klip lagu anak-anak di warung makan. Dicky bahkan sempat aku lihat meniru gerakan-gerakan yang ada di video klip yang ia tonton. Sangat gembira sekali. Tapi, aku sempat tertegun. Bagaimana tidak, anak-anak kecil yang seumuran dengan Dicky sekarang ini lebih banyak menonton dan/atau mendengar lagu-lagu orang dewasa yang semakin kurang ajar dengan anak-anak. Mereka menyuguhkan lirik-lirik yang nakal dan tidak berperikeanak-anakan. Dengan seenaknya mereka mempertontonkan lekuk tubuh mereka di layar kaca. Anak-anak kurang asupan lagu yang pas dengan umur mereka. Mereka kurang mendapatkan ruang di layar kaca untuk membuat mereka terdidik dan menumbuhkan kreatifitas mereka. Mereka haus dengan tontonan-tontonan 'anak-anak'.

Aku terlempar lagi ke memoriku sepuluh tahun yang lalu. Saat pulang sekolah, sekitar jam 10 pagi, aku langsung menyalakan televisi dan aku langsung disuguhkan tontonan yang sangat menarik. Dulu, ada Power Rangers, Teletubies, Tralala-tralili, dan kalau hari Minggu tiba aku akan berusaha bangun sepagi mungkin untuk menikmati tontonan kartun berkualitas, mulai dari Pokemon jam 7 pagi, Tsubatsa jam 7.30 pagi, kemudian Doraemon jam 8 pagi, diikuti Shinchan, Power Rangers, dan tontonan lainnya. Dulu, hari Minggu itu adalah hari kebebasan bagi anak-anak, setidaknya bagiku,  karena Minggu adalah hari dimana remot televisi berada dalam kekuasaanku sepenuhnya.

Kalau kita longok keadaan hari ini, anak-anak pulang sekolah sekitar jam 10 pagi. Lalu, mereka membuka televisi. Apa yang mereka lihat? Kartun? Bukan. Tapi, orang-orang yang dibayar hanya untuk tertawa dan bergoyang ketika disuguhkan nyanyian-nyanyian berlirik nakal dan tidak mendidik. Tontonan yang membuat pikiran mereka tergoncang karena mereka melihat tayangan ejek-ejekan, pukul-pukulan, bunuh-bunuhan, kosa-perkosaan, curi-mencuri, dan lainnya. Tayangan ini bukan tidak mungkin akan mereka rekam dalam ingatan mereka, dan ketika kesempatan itu ada mereka akan menirukan apa yang mereka lihat.

Pun tak bisa dipungkiri, anak-anak sekarang sudah tidak bisa lepas dari gadget berteknologi canggih. Kemanapun pasti mereka menyakui gadget canggih pembelian orang tua mereka. Seakan orang tua ingin menyampaikan, “saya belikan mereka gadget karena saya tidak ingin repot mengurusi ketika mengajak mereka keluar rumah. Dengan bermain gadget, mereka pasti akan fokus pada gadgetnya, tidak akan merecoki.” Selain merusak mental mereka, cekokan gadget juga bisa merusak kemampuan interaksi dan komunikasi mereka. Mereka akan sulit beradaptasi pada lingkungan baru. Mereka akan sulit mendapatkan teman, ya, karena teman mereka kebanyakan imajiner di dalam gadget. Coba bandingkan dengan anak-anak jaman dulu. Pegangan anak jaman dulu ya kalau tidak Gamebot pasti badok atau gundu. Suasana pertemanan sangat kental ketika aku masih kecil. Setiap sore pasti ke lapangan, bermain bola, layangan, atau sekedar ngobrol-ngobrol kecil yang sekarang dikenal dengan istilah quality time. Dulu, waktu satu hari itu serasa panjang sekali.

Globalisasi dan modernitas memang tidak bisa dilepaskan sebagai penyebab ini semua. Tapi, ketika semua itu disalahgunakan, seperti sekarang ini, maka akan berdampak pada tumbuh kembang anak Indonesia yang semakin tahun semakin mencemaskan. Sekarang saja sudah banyak anak-anak yang terlilit kasus kriminal, bahkan sampai pada kasus pembunuhan. Hal itu tidak bisa lepas dari tontonan mereka sehari-hari, termasuk sinetron-sinetron, reality show, variety show, dan show-show lainnya. Sedikit banyak pasti mereka belajar dari sana. Kalau tidak ada tindakan yang nyata dan tegas untuk mengatasi hal ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan negeri ini ditangan anak-anak yang kecilnya dicekoki tontonan seperti itu. Betapa ngerinya negeri ini

Created By Sora Templates