Teguran di Siang Bolong
Seakan
tersedak durian disiang bolong ketika usai membaca The Journey chapter
Raditya Dika dan di halaman terakhir. Disana Raditya Dika bercerita
bahwa ia seringkali ditelepon oleh ibunya, bahkan bisa setiap satu jam
sekali. Lalu dia me-silent teleponnya supaya tidak terganggu
oleh ‘kicauan’ ibunya. Suatu ketika, temannya bercerita bahwa ibunya
telah tiada dan dia sangat ingin menelepon ibunya itu. Raditya Dika pun
terhenyak mendengar itu. Dia merasa bersalah sekali kenapa dia tidak
mengangkat telepon ibunya.Padahal jarak Dika dan ibunya hanyalah sejauh
satu kali pencetan telepon. sedangkan jarak teman dan ibunya tersebut
sudah sangat jauh, bahkan berbeda alam.