Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Prostitusi Bergerigi 2



               Sebuah tempat yang berada di tengah-tengah kota. Sebuah tempat yang sepuluh menit sekali kebisingan karena ada kereta api lewat. Sebuah tempat yang ‘katanya’ milik Raja Yogyakarta tetapi malah menjadi salah satu tempat lokalisasi termahsyur di kota ini. Gang panjang dengan tembok di kiri kanan akan mengantarkanmu sebelum sampai ke tempat lokalisasi. Mereka hidup berdampingan dan harmoni dengan masyarakat sekitar. Hidupku, hidupku. Hidupmu, hidupmu; mungkin kata-kata itu yang mereka pegang sehingga bisa harmonis sampai sekarang. Sekalipun tempat ini adalah tempat lokalisasi, mereka tidak melupakan kewajiban mereka dalam beragama, di sini ada sebuah masjid yang cukup besar dan megah. Semacam mawar merah yang tumbuh dalam padang sahara.
            “Silakan, masuk aja. Maaf tempatnya memang cuma segini,” kata Mbak Luna saat aku dan temanku, Baiq Rita, memasuki ruangan pelatihan.
            Ruangannya sekitar 3m x 4m mirip kos-kosan, tetapi dindingnya hanya terbuat dari triplek-triplek yang ditempeli spanduk bekas kampanye para eksekutif. Untuk meminimalkan rasa gerah, ada sebuah kipas angin mini yang berada di langit-langit dan setiap kipas berputar pasti berbunyi seperti detak jam berdenting. Ruang ini berdempet dengan warung-warung kecil punya warga, atau biasa mereka pakai sebagai tempat transit. Jaraknya dengan rel kereta api pun hanya kurang dari tiga meter. Pintunya terbuat dari bambu yang dilapisi terpal yang ketika kereta api lewat terpal itu berkibar bak sang Saka karena tertiup angin hembusan kereta api.
            “Selamat sore Ibu-ibu. Perkenalkan saya Bryan dan teman saya Baiq Rita dari UMY ingin berbagi sedikit ilmu kami tentang kepenulisan,” aku membuka forum ini dengan sangat gugup.
            Tiba-tiba seorang perempuan yang duduk di pojokan sambil bersender dan dengan muka sedikit cemberut memprotes.
            “Jangan panggil Ibu dong, mas! Panggil Mbak saja. Kan kami belum tua-tua!” celetuk wanita itu.
            Aku terkejut. Kesalahan pertama!
            “Jadi, hari ini kita akan belajar menulis tentang kehidupan Mbak-mbak dari kecil sampai sekarang terjun menjadi seorang pekerja seks komersial. Nantinya, tulisan-tulisan Mbak akan kami bukukan supaya masyarakat mengerti tentang keadaan pekerja seks komersial seperti Mbak-mbak ini dari kacamata Mbak sendiri. Tujuannya supaya tidak ada lagi kata diskriminasi untuk pekerjaan Mbak sebagai pekerja seks komersial,” kataku panjang lebar.
            Tiba-tiba ada yang tunjuk tangan lagi tanda ada pertanyaan, atau protes (lagi). Mati aku.
            “Mas, tolong kata komersialnya dihilangkan ya,” kata wanita itu.
            Kesalahan kedua!
            “Oh iya Mbak, maaf. Baiklah, sekarang mari kita menulis!” seruku menahan malu.
            Pertemuan pertama itu aku jalani dengan penuh kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya tak perlu terjadi. Ketakutanku yang pertama terjadi. Aku kurang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi mereka.
*bersambung*

Kamis, 11 Juni 2015

Kontes Robot Indonesia 2015 di Yogyakarta

            Yogyakarta menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) 2015 yang kegiatannya dipusatkan di gedung Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). KRI 2015 akan dilaksanakan mulai 11-14 Juni 2015. Peserta KRI 2015 ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terjauh bagian barat dari Medan, Sumatera Utara dan bagian timur dari Manado, Sulawesi Utara. Berikut ini foto-foto persiapan gedung Sportorium UMY dalam melaksanakan KRI 2015 :


















Sabtu, 16 Mei 2015

Prostitusi Bergerigi



“Gimana, Bry? Jadi mau ikutan, ga?” tanya Erwin.
“Gimana ya, Win? Aku masih bingung. Bahaya ga sih?” sahutku sambil tertawa.
“Aku tunggu sampai besok ya Bry jawabannya. Kalau mau ikut langsung kontak aku aja,” timpal Erwin.
Hari Rabu bulan September 2014 aku diajak teman seorganisasiku, Erwin Rasyid, mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa ke-28. Setahun sebelumnya aku juga pernah mengikuti program serupa, jadi aku tidak terlalu asing dengan nama programnya. Aku berpikir dua kali untuk mengiyakan ajakan Erwin karena tema yang diangkat di program Erwin ini. Temanya adalah ‘Advokasi Perempuan Pekerja Seks Melalui Citizen Journalism’. Perempuan Pekerja Seks? Sangat diluar bayanganku saat itu. Aku membayangkan jika aku menerima ajakan Erwin aku akan ‘bergaul’ dengan perempuan-perempuan pemanen dosa. Aku takut, sebagai pria normal, akan tergoda jika aku ‘bergaul’ dengan mereka. Aku membayangkan jika aku menerima ajakan Erwin, aku akan dicekoki minuman keras oleh mereka sehingga aku mabuk, lalu aku tidak sadarkan diri dan ketika bangun aku sudah berada di sebuah kamar dengan perempuan di sampingku. Aku terlalu terbuai dengan cerita-cerita murahan sinema televisi saat aku kecil yang hampir setiap hari aku tonton. Aku bimbang; ya atau tidak. 
Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan Erwin. Aku sedikit tak acuh padanya ketika bertemu. Aku malas bertemu dengannya karena pasti aku akan ditanyai lagi tentang ajakan dia kemarin.
“Hei, Bry! Gimana? Ya atau tidak?” akhirnya dia bertanya.
“Eh, Win! Hehehe. Gimana ya, Win? Aku bingung, Win,” sahutku.
“Kapan lagi bisa berkontribusi untuk masyarakat kalau ga sekarang Bry?! Kapan lagi bisa dekat dengan mereka-mereka? Selama ini kita hanya melihat mereka dari luarnya saja, kita belum pernah melihat apa yang sesungguhnya terjadi dibalik profesi mereka kan?” Erwin meyakinkanku.
Terkesiap aku mendengarnya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah mereka sengaja ingin berprofesi sebagai pemuas nafsu pria tidak tahu malu? Atau malah mereka berprofesi seperti itu karena terjebak dalam skenario konspirasi orang-orang biadab? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, aku iyakan ajakan Erwin. Toh nanti disana aku akan saling belajar dengan mereka tentang ilmu jurnalistik. Jadi, tidak akan ada kata mabuk-mabukan disana. Aku luruskan niatku untuk mencoba berbagi ilmuku tentang jurnalistik kepada mereka. Dengan menyebut nama Allaah yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
***
            Dua bulan berselang, proposal program kami –Aku, Erwin, Laila, Hilmi dan Dea— akhirnya disetujui oleh Direktorat Pendidikan Tinggi untuk kami laksanakan program kami di lokalisasi di sekitar kota Yogyakarta. Dana yang disetujui pun sekitar 95 % dari yang kami usulkan. Kami mulai merancang modul, perlengkapan, peralatan, dan segala kebutuhan kami untuk melaksanakan program yang tidak biasa ini. Bagaimana tidak? Selama sekitar tiga bulan kami akan bercokol di tempat lokalisasi yang sebelumnya membayangkannya saja tak pernah.
            Akan aku jelaskan sedikit inti dari program kami ini. Program ini adalah sebuah wadah advokasi untuk para Perempuan Pekerja Seks (PPS) melalui citizen journalism. Dimana di program ini kami akan mengajak para PPS ini untuk mengadvokasi diri melalui tulisan, baik itu berita, cerita, hingga dalam bentuk puisi sekalipun. Dengan cara ini, mereka diharapkan mampu membuka mata dan pikiran orang-orang di luar sana yang menganggap mereka hanya sampah masyarakat. Tetapi, sebenarnya mereka hanyalah korban dari orang-orang biadab yang hanya mengincar kenikmatan dan keuntungan untuk kantong mereka sendiri. Keluaran yang diharapkan dari program ini adalah buku yang sedang kalian pegang sekarang. Tulisan dalam buku ini adalah tulisan mereka sendiri, para PPS yang banyak mendapat celaan, cercaan, dan cemoohan dari masyarakat; mungkin termasuk Anda.
            Aku, Hilmi, dan Laila masing-masing ditugaskan menjadi pelatih PPS di tiga tempat lokalisasi yang telah dipilih : Ngebong, Giwangan, dan Pasar Kembang. Satu kali dalam seminggu selama satu bulan kami akan berkunjung ke masing-masing tempat itu untuk melakukan pelatihan jurnalistik. Kebetulan aku mendapatkan tempat yang cukup dekat dengan kosku : Ngebong. Laila di Pasar Kembang dan Hilmi di Giwangan. Sedangkan Erwin dan Dea akan menyiapkan acara launching bukunya. Aku gerogi. Bisakah aku? Apakah aku mampu untuk membawa suasana yang kondusif bersama dengan PPS yang dalam pikiranku saja aku takut dengan mereka.
***
bersambung~

Rabu, 15 April 2015

Tantangan Menjadi Redaktur Pelaksana Nuansa Kabar di LPPM NUANSA UMY


Malam ini, Rabu, 15 April 2015 pukul 7.30 pm di Bu Saring rapat pertama redaksi dengan pengurus mudanya, yang kemarin baru dilantik dari anak magang. Jadi, kalau dijumlah, redaksi lama dengan redaksi baru berjumlah 21 orang. Tapi angka 21 ini tidak akan bertahan lama, karena sisa satu bulan lagi untuk angkatan 2012 menjadi bagian dari redaksi. Kalau angkatan 2012 sudah demisioner, jumlah anggota redaksi menyusut menjadi 15 orang saja.

Aku jadi teringat tentang bagaimana dulu awal aku masuk jadi redaksi. Setelah dibagi divisi, aku dan teman-teman redaksi lainnya ngumpul bersama Pimpinan Redaksinya, Om Nashwan. Kira-kira waktu itu hanya berenam saja dengan pimrednya. Nah, pas disitu kami langsung ditodong disuruh pilih mau jadi redaktur pelaksana mana. Ada Nuansa Majalah, Nuansa Kabar, Nuansa Online, dan Nuansa Qolbu. Akhirnya aku memilih Nuansa Kabar. Alasanku waktu itu karena, satu, Nuansa Kabar terbitnya bulanan yang bisa dipastikan banyak waktu luang untuk mengaturnya. Dua, aku merasa keren karena namaku pasti terpampang setiap bulan di Nuansa Kabar sebagai Redaktur Pelaksana.

Tapi, setelah sampai pada Nuansa Kabar edisi April 2015 yang mana ini edisi terakhir, aku merasa bahwa alasan-alasanku diatas tidak terpenuhi. Pertama, soal Nuansa Kabar yang terbitnya bulanan. Aku mengira pasti nanti akan banyak waktu luang. Ternyata tidak, kawan. Dalam prosesnya, banyak sekali hambatan-hambatan yang harus dilalui, dari proses penentuan tema sampai pada sirkulasinya, yang itu memakan waktu yang lumayan menguras pikiran. Dari reporter yang malas-malasan, berita yang kurang data, narasumber yang sulit ditemui, menemukan angle berita baru yang berbeda dari sebelumnya yang sudah ditentukan, editor yang masih salah-salah, belum lagi kalau layouternya main-main.

Kedua, aku merasa keren namaku terpampang di Nuansa Kabar setiap bulan sebagai Redaktur Pelaksana. Tidak, kawan. Malah aku malu, ketika berita yang dimuat dalam Nuansa Kabar belum baik dan belum memenuhi kriteria. Pernah pada edisi Januari 2015, ada sebuah tulisan yang sama sekali belum diedit. Edisi itu menurutku yang paling buruk karena menunjukkan betapa cerobohnya aku sebagai redaktur pelaksana meloloskan dan tidak mengecek ulang saat mau dicetak.

Kendala lain yang aku hadapi ketika menjadi Redaktur Pelaksana Nuansa Kabar adalah menegaskan kepada reporter supaya menepati deadline. Jujur, itu sangat sulit. Deadline tulisan di Nuansa Kabar adalah tanggal 26 setiap bulannya. Dari tanggal 27-29 itu editing, tanggal 30-3 layouting, dan tanggal 10 sudah sirkulasi ke seluruh penjuru kampus. Target itu hanyalah wacana hingga sekarang. Belum pernah sekalipun edisi yang terbit dan sirkulasi pada tanggal 10. Paling cepat itu tanggal 16 saat edisi Januari 2015. Paling parah adalah saat bulan Desember 2015. Terbit tanggal 23 Desember. Mepet dengan libur panjang.

Tapi, alhamdulillaah, akhirnya Nuansa Kabar periode 2014/2015 terpenuhi sebanyak empat edisi. Ya, memang sebelumnya seharusnya Nuansa Kabar jalan sampai bulan Mei 2015, tetapi karena kendala teknis, edisi Mei 2015 harus ditiadakan. Aku berpesan pada redaktur selanjutnya, tingkatkan ketegasan untuk para reporter supaya tepat waktu dalam penyelesaian tulisan, juga ruang lingkup pemberitaannya jangan hanya tajam didalam kampus saja, tapi juga harus sebanding dengan diluar kampus. Aku percaya, kepengurusan tahun 2015/2016 pasti akan lebih maksimal dalam menggarap Nuansa kabar ataupun produk Nuansa lainnya.

Senin, 13 April 2015

Makrab LPPM NUANSA : Selamat Berproses!

Tanggal 11-12 April 2015 kemarin, Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa NUANSA kampus Muda Mendunia mengadakan makrab yang dihadiri 45 peserta, terdiri dari anak magang -sekarang pengurus muda- dan pengurus utama. Makrabnya dilaksanakan di Kaliurang, tepatnya di Villa Kanesta. Makrab ini merupakan kali pertama dalam sejarah LPPM NUANSA, karena ini adalah makrab pertama yang diadakan selama LPPM NUANSA berdiri. Ya, banggalah jadi pelaku sejarah :p

Latar belakang diadakan makrab adalah untuk mempererat jalinan silaturahmi antara anak magang dan juga pengurus. Selain itu, dimakrab ini juga digelar pelantikan anak magang menjadi pengurus muda LPPM NUANSA sekaligus pembagian divisi untuk anak magang. Salah satu acara makrabnya adalah focus group discussion yang diberi waktu 15 menit setiap divisi. Tujuannya adalah untuk menggali dan mengetahui potensi-potensi anak magang dalam pemecahan masalah yang kadang dihadapi oleh divisi itu.

Secara keseluruhan, makrab tahun ini berjalan sangat lancar, namun ada sedikit kendala dalam hal waktu. Banyak acara yang melebihi waktu yang sudah ditentukan sehingga berimbas pada acara-acara selanjutnya.

Selamat ya untuk pengurus muda LPPM NUANSA 2014/2015! Semoga bisa mengemban amanah yang baik dan terukur! Jadikan ini langkah-langkah strategismu untuk menjadi bekal di dunia kerjamu nanti. Jangan lelah berproses! Selamat berproses bersama LPPM NUANSA, jurnalis muda Indonesia!!
















Jumat, 27 Maret 2015

Jenuh


Aku mau cerita. Akhir-akhir ini aku jarang kuliah. Alasan pertama adalah karena pacarku ga mau aku tinggal (red: kasur). Kedua, terlalu malas untuk selalu mengulangi kegiatan rutin setiap hari: mandi dan segala tetek bengeknya. Ketiga, mata kuliahnya ngebosenin. Keempat, ngurusin tugas LPPM Nuansa dan tugas PKM.

Aku mau cerita. Aku jenuh sama lingkunganku sekarang. Ga tau kenapa. Tiba-tiba pengen ngerubah suasana aja menjadi ga biasa. (gambar : songa-rafting.com/)

Kamis, 30 Oktober 2014

Nikmatnya Hidup, Kita yang Tentukan

Akhir-akhir ini aku sungguh bertemu dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang tangguh, kuat, tegar, semangat menjalani kehidupannya; pahit maupun manis. Mereka orang-orang yang umurnya sebaya denganku. Tapi mereka telah "hidup". Hidup yang sebenar-benarnya hidup. Bukan hidup tinggal menodong harta orang tua. Tapi hidup dengan kebanting-tulangan.

Mereka tahu betapa hidup itu sangat berharga. Mereka membanting tulang, memeras keringat demi menghidupi diri mereka, dan keluarga mereka. Mereka rela berkorban demi apapun. Bahkan mereka rela mengorbankan waktu dan uang kuliahnya untuk membiayai hidup keluarganya. Sungguh itu sangat jarang ditemui pada anak muda jaman sekarang; termasuk aku. Aku malu. Malu pada mereka yang seumuran denganku sudah menghasilkan omset ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.

Mereka melakukan itu semua bukan karena keinginan mereka. Tapi keadaan yang memaksa mereka berbuat seperti itu. Memang, hidup itu kadang jahat bagi orang yang bekerja keras. Tapi dengan kerasnya hidup mereka mengetahui apa sebenarnya makna hidup itu. Daripada mereka yang hidupnya baik tetapi mereka tidak mengetahui arti hidup itu sendiri.

Sungguh aku terkesan dengan orang-orang seperti mereka. Belum tentu, atau bahkan aku tak akan bisa seperti mereka. Seumuran sekarang yang ada dalam pikiranku hanyalah bermain dengan teman-teman, kuliah, menghabiskan uang jatah bulanan. Boro-boro aku inisiatif untuk membuat sesuatu yang mempunyai nilai jual. Aku selalu meminta, meminta, meminta pada orang tua. Aku belum pernah, bahkan sekali pun tak pernah membahagiakan mereka.

Suatu saat nanti, mungkin beberapa tahun lagi aku akan membahagiakan mereka. Entah bagaimana caranya. Mulai detik ini aku berjanji aku akan berusaha untuk membuat mereka bahagia. Panjangkan umur mereka, Ya Allaah SWT. Aku berjanji. 30 Oktober 2014 pukul 4.20.

Minggu, 23 Maret 2014

When I Was Child (and now)

Umur 2-3 tahun :D
Ini aku, iya. aku juga ga nyangka.
Ini aku umur 4 tahunan.


Aku pas TK.

Aku waktu SD kelas 1.
SD kelas 6.
SMP kelas 1.
SMA kelas 1.
SMA kelas 12. Ngga kok aku ga operasi buang lemak apalagi operasi plastik :o
Aku pas Wisuda SMA.
Ya begitulah perjalanan evolusi mukaku dari yang dulu imut dan lucu banget sampai sekarang yang ehmmmm -__-

Senin, 17 Februari 2014

Kuncinya Adalah Ikhlas

         Kampusku itu kan mewah (mepet sawah) ya jadi pemandangannya lumayan epic, apalagi kalau mau senja gitu, beuh the superb view is on your eyes!! Kenapa aku ngebahas kampus ku? Entahlah. Jadi di kelas H itu banyak anak ngapaknya. Ngapak itu semacam itu loh alat buat motong kayu..... (Itu KAPAK, monyet!) Ngapak itu adalah semacam dialek orang jawa gitu. Bahasanya beda sama Bahasa Jawa pada umumnya karena bahasa Ngapak ini diilhami oleh Bahasa Jawa Kuno. Ngapak hanya digunakan oleh orang Banyumasan dan sekitarnya, termasuk Banten bagian utara dan Cirebon bagian Indramayu. CMIIW (Correct Me If I Wrong) ya.

Selasa, 04 Februari 2014

Bulan Juli 2013 : Masa-masa Kelam.

Mau nulis kesibukanku selama bulan Juli 2013 :

30 Juni : Tes SIMAK UI di SMP 216 Jakarta Lantai 3 Ruang 21. Aku sih ngerasa bisa jawabnya. Ya tapi emang agak banyak yang ngarang sih tapi kaaaannn~ di Jakarta Aku nginep di rumah Mas Tono. Tapi pas aku dateng tanggal 28 juni, tanggal 29 nya Mas Tono sekeluarga ke Blitar. Holidei. Jadi enak mau ngapa-ngapain kalo ga ada siapa-siapa di rumahnya. Hahaha.

1 Juli : Balik ke Purwokerto. Tanggal 2 nya ke sekolah ngurusin ijazah. Dan kalian tau apa? Nama ijazahku salah. Masa BRIYAN BIMANTORO kan harusnya ga ada I nya. Paling sebel kalo salah nama gitu. Akhirnya diganti dengan yang baru dong B) di Purwokerto sampe tanggal 4 Juli siang. 4 Juli malam langsung ke Surabaya. Daftar Ujian Mandiri Universitas Airlangga. Ke Surabaya naik Gaya Baru Malam Selatan sama bapak. Sampe di Surabaya jam 2 dinihari apa ya lupa. Nah kan sebelumnya pas di Jakarta aku udah cari info penginapan ke Mas Agi Noto, alumni SMA Negeri 5 Purwokerto yang kuliah di Surabaya. Nah dia udah dapet infonya dan aku kontak penginapannya. Eh pas hari H nya bapakku ga mau. Katanya curiga lah ini lah itu lah. Tapi sih emang agak gimana gitu juga di tempat orang gatau apa-apa kan~

Sabtu, 01 Februari 2014

Out of The Box

Kali ini aku mau ngepost tentang sahabat-sahabatku di Yogyakarta. Walaupun baru kenal beberapa bulan, aku telah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri (ga tau ya kalau mereka nganggep aku keluarga mereka atau ngga). Mereka adalah Yopi Irianto Panut, Muh. Sandy Kusmartopo, Muhammad Afkar Abdillah, Satriya Ade Nugroho, Gilang September Purnama, Nur Ade Irawan, Rumaisha Qoidatus Syahidah, Fatimah Mutiara Siregar, Intan Efendi, Tiara Eliza, Evelina Nur Fitri, Salmiatun Budi Utami, Wahyunanda Kusuma Pertiwi, dll. Dan bukan berarti yang tidak tertulis disini bukan keluargaku ya. Kalian semua keluargaku HIHcorps!!!! Muah

Yang pertama yang akan aku bahas disini adalah Yopi Irianto Panut. Dia putra Papua. Dia bercita-cita ingin jadi pilot. Kita doakan semoga bisa jadi pilot ya guys! (biar bisa terbang gratis, gitu). Dulu aku kenal dia waktu kita lagi duduk bareng di koperasi mahasiswa sebaris dengan kantor BEM Fisipol UMY. Hari itu pas hari Jum'at (kalau hari jum'at emang kenapa?gatau juga sih) jam 9an pokoknya kelar Kajian Al-Islam deh. Nah aku yang waktu itu belum punya teman ikut-ikutan rombongan aja yakan disana yang aku ingat ada Galih, Latif, sama Yopi ini. Aku duduk di sebelahnya Yopi, kananku ada Latif dan di samping kirinya Yopi ada Galih. Aku diem aja waktu itu, pengen kenalan tapi masih malu dulu.hahaa jadi aku main hape aja terus sambil merhatiin Galih yang lagi ngobrol sama temennya di seberang jalan. Tiba-tiba Yopi ngajak kenalan duluan.hahaa pucuk dicinta ulam pun tiba (apaloh).

Selasa, 28 Januari 2014

Teringat Masa Lalu

ingat betul dulu ketika menunggu pengumuman SBMPTN. ketika itu sudah menunggu di depan laptop sejak pukul 3 p.m walaupun pengumumannya diunduh pukul 6 p.m dan itupun masih mengalami pemunduran dari jadwal yang seharusnya pukul 5 p.m. ketika menunggu pengumuman itu aku pasti merasa ga akan diterima --dan memang ga diterima-- di salah satu dari empat pilihan yang aku pilih saat itu. "kau harus optimis Bryan!!kau harus yakin kalau kau pasti bisa merebut salah satu kursi itu!" sorakku dalam pikiran. ketika itu aku menyadari bahwa aku telah berada dalam posisi dimana keoptimisanku masih kalah jauh lebih sedikit jumlahnya dibanding kepesimisanku. memang, rasa optimis pasti berdekap erat dengan yang namanya pesimis.

Senin, 27 Januari 2014

Teguran di Siang Bolong

Seakan tersedak durian disiang bolong ketika usai membaca The Journey chapter Raditya Dika dan di halaman terakhir. Disana Raditya Dika bercerita bahwa ia seringkali ditelepon oleh ibunya, bahkan bisa setiap satu jam sekali. Lalu dia me-silent teleponnya supaya tidak terganggu oleh ‘kicauan’ ibunya. Suatu ketika, temannya bercerita bahwa ibunya telah tiada dan dia sangat ingin menelepon ibunya itu. Raditya Dika pun terhenyak mendengar itu. Dia merasa bersalah sekali kenapa dia tidak mengangkat telepon ibunya.Padahal jarak Dika dan ibunya hanyalah sejauh satu kali pencetan telepon. sedangkan jarak teman dan ibunya tersebut sudah sangat jauh, bahkan berbeda alam.

Minggu, 26 Januari 2014

Party Guys

Jadi semalam abis kumpul Party Guys tapi tanpa azyad -__-Ceritanya kan aku udah ga ada motor di sini, secara udah dibawa ke Jogja gitu ya. Nah si Theo dengan sangat baik hati mau antar jemput aku dari rumahku yang di pelosok Purwokerto sampe ke daerah GOR Satria bolak balik.wkakak
Eh tapi sebelumnya kita kumpul dulu di depan SMA Negeri 5 Purwokerto tercinta. lama banget disitu. ngapain coba? nantuin mau kemana-__-
bayangkan saudara-saudara! 4 terong-terongan lagi berdiskusi dibawah temaram lampu dan pas banget saat itu lagi gerimis. jadi kaya romantis gimana gitu tapi kok ya cowok semua ini loh -___-
lumayan lama sekitar setengah jam bingung mau kemana kan akhirnya diputuskan untuk ke Nasi Goreng Seafood aja di deket Unsoed. nah pas sampe ditempat kok Yonatan sama Fajar belum dateng. terus tiba-tiba mereka nelepon dan bilang kalau gausah kesitu. okeeee -______-
akhirnya ke Oyabun Japanese Food di Mangunjaya. yakan pas baru sampe gile aje cuma kite berempat sumpah-__-
okelah nevermind. sumpah itu aku milih menunya takut banget setelah kejadian makan sama Ade irawan, Isya, sama Nanda di FoodFezt kemarin. udah mahal dan porsinya dikit.hahaha
oke aku pesen Tori Toge…..apa ya lupa.haha oke semuanya udah pesen.

Jumat, 25 Oktober 2013

Dilema..

Jadi hari rabu kemarin ibuku datang dari Belitung naik sriwijaya.
ibuku ke jogja sendiri. dari belitung jam 8 dan sampai jogja jam 2.15 p.m
terus aku mesen taksi ke UMY biayanya 100k.
sebelumnya, pas hari senin, aku ikutan Open Recruitment KOMAHI UMY 2013.
tes tertulis sama interview langsung..di tes tertulis ada 4 soal. soal pertama tentang komahi UMY, soal kedua tentang negara-negara di dunia, soal ketiga tentang APEC, dan terakhir tentang apaaa gituu lupa aku-__-
terus abis tes tertulis lanjut tes interview..di ruang interview aku ditanya tentang kekomahian dan lain lain sampai aku ditanya mau masuk ke divisi mana..aku jawab aku mau masuk ke divisi minat dan bakat.
dan ternyata mereka tanya aku bakatnya apa.terus aku jawab aja aku bisa niruin bunyi 4 hewan : kucing, anjing, ayam, kambing. dan kamu tau apa?aku disuruh memraktekkannya di tengah-tengah ruang interview.
dan ga tau kenapa pada saat itu aku ga malu padahal saat itu semua mata tertuju padaku semua.
it's something embarassing moment in my life..
interview selesai dan tinggal menunggu pengumumannya besok.
dari selesai interview sampai sore aku main sama temen..
langsung aja deh *keesokan harinya*
pengumuman komahi katanya sudah ada. aku tanya temen ada yang lolos ada yang ngga.aku sendiri ikut komahi juga ga niat-niat amat sih..cuma buat senang-senang aja. da setelah di cek di pengumuman..namaku tercantum!!! BRIYAN BIMANTORO. ya walaupun namanya salah tapi aku tau maksudnya.
dikelasku ada 6 orang yang lolos, 4 cowo 2 cewe : Aku, Yopi, Afkar, Gilang, Tami dan Yesi.
seneng sih tapi cuma seneng aja ga seneng banget, karena dari awal emang ga niat banget masuk komahi.
jujur, aku daftar komahi cuma karena komahi itu organisasi paling prestisius di Jurusan HI dan memag itu sangat banyak pendaftarnya..ada sekitar 250an pendaftar dan yang diterima cuma 52 diantaranya aku.
setelah pengumuman itu aku nemuin temen-temen di UMY Boga, terus pada ngasih ucapan selamat ke aku-__-
makasih ya teman-teman :p terus jam 1 siang aku jemput ibuku sama Afkar nebeng mobilnya afkar. semula aku pengen nyewa mobil+afkarnya buat jemput antar ibuku ke kosanku.tapi kata afkar kejauhan kalo bolak balik gitu..jadi ya aku ga enak terus aku cuma minta tolong jemputin ibuku di bandara terus ke kosannya naik taksi.ibuku ke jogja mau nengokin aku :3 besoknya aku ngajak jalan ibuku ke Malioboro.ibuku beli daster 2 60k..padahal awalnya 60k itu dapet 1 daster-__- di malioboro dari jam 9 sampai jam 10.terus aku ke kraton Yogyakarta muter2 sekitar 20 menit selesai.terus pulang. dan jam 3 aku ada technical meeting buat tes tahap akhir komahi.saat itu aku belum tau tes akhirnya apaan.dan akhirnya pas aku dateng TM dan dijelasin mekanisme tahap akhir tesnya ternyata harus menginap di kaliurang selama beberapa hari sampai hari yang belum ditentukan dari hari sabtu.WHAATTT??? aku langsung ingat ibuku. bagaimana bisa aku ninggalin ibuku, yang tujuannya buat jenguk aku dan sedangkan aku akan ninggalin dia buat beberapa hari gitu. saat itu ke-egoisme-an ku mencuat.ah gapapalah ninggalin ibuku toh cuma 2 hari--katanya.tapi pas aku rundingin ke kakin, katanya masa aku tega ninggalin ibuku. daann saat itu juga hati dan perasaan ku bergejolak. aku harus pilih yang mana? disisi lain aku ga tega sama ibuku ga tega kalo harus ninggalin beliau. disisi lain aku juga sayang banget buat ngelepas komahi yang sudah 80% berada di tanganku. aku coba sms Sandi sama Afkar untuk minta pendapatnya. Sandi bilang pilih Ibu. Afkar bilang pilih Komahi. aku tambah bingung. dan aku merenung.aku berpikir, aku ga mungkin buat ninggalin ibuku hanya untuk kepentinganku sendiri. keadaan kosku ga ada hiburan sama sekali.kasian ibuku kalo sendirian.dan akhirnya aku putuskan, aku pilih IBU.setelah aku putuskan begitu banyak juga yang mendukung. Tam-tam, latif, sandi, afkar, Yopi.semua ngedukung. mereka bilang pasti ada jalan dibalik semua ini.sampai detik ini perasaan ku masih kacau dan sangat badmood.tapi semoga keputusanku ini benar dan Allaah akan meberi balasan yang setimpal atas keputusanku ini. Thanks Yopi buat supportnya.

Rabu, 16 Oktober 2013

baru kutemui disini..

luar biasa..
aku sangat bersyukur bisa mengenal orang-orang yang seperti mereka..
orang yang pola pikirnya out of the box..
out of the box dalam arti mereka tidak hanya berpikir atau melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja.
disini aku juga merasa nyaman sekali punya teman seperti mereka..
perasaan ini tidak pernah sama sekali aku rasakan sebelumnya dari SD sampai SMA..
entah mengapa..entah karena aku yang kurang bisa beradaptasi atau apa..
tapi yang pasti disini aku menemukan sosok teman yang luar biasa..
yang bisa melihat dengan sudut pandang berbeda...
sungguh luar biasa..
aku orangnya memang seperti ini..pendiam.tapi ketika berbicara tidak banyak berpengaruh terhadap orang lain.
aku pendiam, tetapi ketika aku melucu dirasa sangat tidak lucu atau jayus atau garing..
tapi mereka disini bisa menerima keadaaanku seperti itu yang mungkin bagi mereka itu hal yang baru..
mereka membuatku nyaman ketika mengobrol dengan mereka..
bertukar pikiran,menuangkan segala pikiran yang selama ini mengganjal untuk dikeluarkan tetapi belum menemukan sosok yang tepat untuk menerima segala pikiran yang ingin aku keluarkan..
Allaah telah mempertemukanku dengan sosok mereka yang begitu aku kagumi..
mereka masing-masing punya kelebihan, ciri khas, watak yang berbeda..
dan aku juga suka akan kesemua yang mereka miliki itu..
semoga pertemanan ini akan berlanjut sampai mati. 

Minggu, 26 Agustus 2012

Andrea Hirata Seman Said Harun


Jum’at, 24 Agustus 2012. Itu adalah hari paling paling paling bersejarah untukku, setidaknya sampai 16 aku hidup. Di hari itu aku serasa menginjakkan kaki di tanah surga dan melayang-layang terbang di angkasa raya leluasa seleluasa burung di udara. Aku di mabuk kepayang olehnya. Aku tak bisa berkata-kata. Mulutku terkunci oleh suatu zat racun yang seketika melenyapkan kepandaian mulutku berbicara. Tubuhku menggelinjang seperti orang terkena serangan jantung. Hari itu sangat membuatku senyum sepaaaaanjang malam bahkan sampai saat ini. Ya, sampai saat ini kawan!! Bukan main sihirnya!!
Dia membuatku senyum-senyum sendiri saat ku teringat ketika aku pertama kali melihatnya. Aku senyum-senyum sendiri ketika mengingat gaya dia bicara. Aku senyum-senyum sendiri ketika mengingat dia tertawa, berjalan, bahkan cara duduknya aku sangat mengingatnya. Ya, walaupun hanya beberapa jam saja aku bersamanya, aku bisa merasakan atmosfir keberadaannya di ingatanku sepanjang hari, bahkan mungkin sepanjang masa. Sungguh dia sangat membuatku gila!!
Dia adalah seorang penulis yang tak mau disebut penulis. Dia adalah seorang sastrawan yang tak mau disebut sastrawan. Dia adalah sosok yang sangat sederhana. Sosok yang sangat bersahaja. Sosok yang banyak di sukai orang. Sosok yang sangaaaaaaaatt penuh dengan misteri. Dia juga adalah seorang pemimpi yang tegar. Dia adalah orang yang penuh dengan ide cemerlang. Dia adalah orang yang punya segaaaaaalanya. Kepintaran, kecerdasan, kebersahajaan, kebersamaan, keramah-tamahan, segalanya dia punya!! Oh iya! Dia juga punya kekuatan sihir yang mampu menyihirku dan banyak orang dengan bahasa sastranya.

Rabu, 04 Juli 2012

Gue Banget Nih


Hai guys..gue nongol lagi nih.setelah 6 bulan 1 hari vakum di dunia per-blog-an.hahaha
sebenernya udah lama sih mau nge-post. tapi rasa males menguasai gue untuk tidak nge-post.
di post kali ini gue pengen cerita tentang kelanjutan pendidikan gue. gue udah naik kelas XII tanggal 24 Juni 2012 kemaren. naaahhhhh sekarang giliran bingung..bingung kenapa?yaaa bingung mikirin UN, yang paling ngebuat bingung tuh ntar MAU KEMANA SETELAH TAMAT SMA??
gue sih udah ada bayangan mau kemana. pilihan pertama gue jatuhin ke Jurusan Hubungan Internasional. gue udah naksir banget Jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Airlangga. gue ngincer nih jurusan udah dari pas kelas X.tapi lagi-lagi gue bingung.di kelas XI kan ada materi PKn tentang Hubungan Internasional. nah di materi itu aku agak kesulitan mempelajarinya. ga tau karena faktor gurunya atau faktor guenya yang ga begitu mampu mempelajarinya.kadang gue suka ngehayal kalo gue ntar abis kuliah di HI gue bakalan jadi Dubes di Eropa atau Amerika gitu ya...aaahhhhh enaknya....

Senin, 14 November 2011

Ketika Masa Lalu Kembali Menyeruak Part II

Aku tidak tahu bagaimana raut mukanya waktu itu-secara udah 7 tahun yang lalu- yang pasti ia langsung membawa kami ke sebuah ruangan, dan disana Dokter Catur menerima aku jadi pasiennya dan kami disarankan untuk memilih kamar.
bapakku membawaku untuk memilih kamar,
pertama aku dibawa ke kamar yang ukurannya 8x6 yang memuat 6 pasien.
waktu sampai dikamar itu aku menangis takut.
kenapa???karena disitu aku melihat ada anak kecil yang hidungnya,penisnya,perutnya dan mulutnya dikenai selang.aku tidak tahu dia punya penyakit apa, belakangan diketahui dia tidak bisa mencerna makanan dengan baik.
kemudian aku tidak mau tinggal dikamar itu, terus aku dipindah ke kamar yang ukuran 3x4 dan ada TV-nya.
disana aku merasa nyaman, tapi banyak kekurangannya.
sepi dan per malamnya mahal.
aku kasihan juga dengan bapakku, dan dengan berat hati aku memutuskan untuk dirawat dikamar pertama tadi.

Minggu, 13 November 2011

Ketika Masa Lalu Kembali Menyeruak

Kita sebagai manusia pasti punya masa lalu, bayi yang baru lahir 1 menit aja udah punya masa lalu-tau lah yaaa..
naahhhh..masa lalu itu terbagi dua lagi, masa lalu yang senang, masa lalu yang buruk, masa lalu yang patut dikenang, masa lalu yang gausah diingat-ingat lagi.-ehh itu 4 yaaa....sorry dah-
nah saya akan membahas semuanyaaaaaa #eaa
Yang pertama, masa lalu yang senang.
masalalu ku yang senang itu banyak, saking banyaknya sampai lupa.
salah satu yang paling kuingat dan baru terjadi dalam hidupku adalah, aku mengikuti dua lomba yang seumur baru pertama kali ini aku rasakan : LOMBA CERDAS CERMAT BELA NEGARA dan LOMBA CERDAS CERMAT NASIONALISME...
LOMBA CERDAS CERMAT ini tingkatnya tingkat KARESIDENAN-apa KARISIDENAN apa KARISEDENAN apa mbuh gatau- BANYUMAS...
tentang LCC ini aku sudah menceritakannya di post yang dulu.... :D
sangat berkesan boooo...
sumpeh deh.
Created By Sora Templates