Rabu, 14 Oktober 2015

Car Free Day : Yakinkah Bermanfaat?



(sumber gambar disini)

Kegiatan ini mulai menjamur diadakan di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Yogyakarta, dan ibukota Jakarta. Car Free Day sendiri pertama kali dilaksanakan oleh Belanda pada hari Minggu, 25 November 1956. Di Indonesia, kegiatan ini pertama kali dilaksanakan di Jakarta, tepatnya di jalan Iman Bonjol. Kegiatan ini berhasil dilaksanakan setiap tahunnya, sampai pada tahun 2003, sebanyak 1500 di seluruh dunia melaksanakan Car Free Day secara serempak dan diikuti oleh lebih dari 112 juta umat manusia.

Namun, melihat perkembangan jaman dan perubahan pola hidup masyarakat sekarang ini, Car Free Day masih banyak manfaatnya?  Dari sisi positif, Car Free Day memang bisa berkontribusi untuk sedikit mengurangi polusi udara, itu pun hanya satu hari saja, bahkan itu juga tidak penuh selama 24 jam. Car Free Day di Jakarta sekarang berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Nomor 380 Tahun 2012 tentang Penetapan Lokasi, Jadwal dan Tata Cara Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Provinsi DKI Jakarta hanya menetapkan waktu Car Free Day berlangsung dari pukul 06.00-11.00 saja.

Car Free Day sekarang ini juga bukan dijadikan sebagai ajang olahraga, namun dijadikan sebagai ajang gaya-gayaan bagi anak muda. Belum lagi jika mereka membawa makanan dan minuman, sampahnya pasti akan ditinggalkan oleh mereka di tempat mereka makan dan minum itu. Selain itu, karena pelaksanaan Car Free Day berakhir pukul 12.00 siang, maka penumpukan kendaraan di sekitar jalan tempat berlangsungnya Car Free Day pun menjadi padat dan membuat kemacetan. Menurut carfreedayindonesia.org, penumpukan kendaraan ini akan menyebabkan kenaikan emisi dan polusi secara cepat dan signifikan. Hal ini akan mengakibatkan udara menjadi lebih berpolusi dari hari-hari sebelumnya.

Tahun 2014 lalu, di Surabaya juga dilaksanakan Car Free Day di daerah Taman Bungkul. Car Free Day ini dilaksanakan oleh salah satu perusahaan es krim di Indonesia. Car Free Day ini membuat Walikota Risma marah karena Taman Bungkul rusak diinjak-injak warga saat berebut es krim gratis dari penyelenggara. Selain membuat kemacetan di sekitar Taman Bungkul, tanaman dan pohon-pohon di Taman Bungkul juga rusak akibat dari Car Free Day ini.

Sebenarnya, jika Car Free Day benar-benar dilaksanakan sebagai salah satu cara manusia untuk mengurangi polusi dan emisi di dunia ini, maka hasilnya akan sangat baik. Namun, jika kegiatan ini diikuti dengan kelakuan yang tidak semestinya, lebih baik Car Free Day tidak perlu dilaksanakan.
Masih banyak cara kita untuk bisa membantu mengurangi polusi dan keberlanjutan lingkungan kita. Hal mudah yang sehari-hari bisa kita lakukan adalah membawa tas belanja sendiri ketika belanja bulanan ataupun harian, dengan begitu, kita sudah bisa mengurangi penggunaan plastik yang sulit dicerna oleh bumi. Selain itu, meminimkan penggunaan tissue dan sedotan juga bisa membuat bumi kita sehat. Memang, hal-hal tersebut dirasa kecil dan mudah, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Namun, ketika hal-hal kecil tersebut kita lakukan bersama-sama, maka perubahan yang akan terjadi juga akan besar, bahkan bisa melebihi Car Free Day yang hanya dilakukan pada hari Minggu dan beberapa jam saja. Mari galakkan hidup sehat dan selamatkan lingkungan kita dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab! SALAM LESTARI!

Selasa, 30 Juni 2015

Hubungan Indonesia-Amerika Serikat Pada Masa Pemerintahan Megawati dibidang Militer (Pertahanan dan Keamanan)

George Walker Bush saat mendampingi Megawati di White House, US. Sumber foto
Tulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah Politik Global Amerika Serikat yang diampu oleh DR. Bambang Cipto, M.A dan diasisteni oleh Idham Badruzzaman.
...........................................................................................................................................................................



Dalam pidato kenegaraannya pada 16 Agustus 2001, terdapat enam program yang ditekankan oleh Presiden Megawati dalam kabinetnya yang dinamakan Kabunet Gotong Royong, salah satu yang mendapat sorotan penting adalah implementasi politik luar negerinya yaitu melaksanakan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, memulihkan martabat negara dan bangsa, serta mengembalikan kepercayaan dari negara-negara asing, termasuk lembaga-lembaga donor internasional, investor, dan pemerintah. Presiden Megawati menambahkan, bahwa pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang intinya adalah untuk memulihkan martabat negara dan bangsa, serta mengembalikan kepercayaan dari negara-negara asing, harus pula memperhatikan pemulihan dan upaya untuk menjaga stabilitas keamanan nasional dan pertahanan. Sistem yang disiplin serta aparat keamanan yang efektif harus kita butuhkan, yang berada di bawah kendali pemerintah, tetapi tetap membawa aspirasi rakyat.
Perihal fokus utama politik luar negeri Indonesia yang menekankan pada ‘perbaikan image bangsa dan mengembalikan kepercayaan pihak dunia luar, maka unsur stabilitas keamanan di bawah pengawasan pemerintah, dengan tetap mengutamakan dan memperhatikan aspirasi masyarakat, dengan kata kunci penting; keamanan, pemerintah, dan masyarakat. Hal-hal tersebut dapat dikatakan merupakan hal-hal yang menjadi ciri khas pemerintahan Presiden Megawati dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Lebih jauh Presiden Megawati juga melihat bahwa reformasi nasional dan penciptaan situasi masyarakat yang lebih demokratis memerlukan peran TNI yang dinamis, siap, dan mampu melakukan penyesuaian dengan berbagai perubahan yang ada.
Rakyat umumnya diarahkan untuk lebih berorientasi pada Polri, dan tidak perlu langsung berhubungan dengan aparat TNI dalam hal isu-isu menyangkut keamanan atas dirinya, keluaraganya, dan lingkungannya. Pola hubungan yang demikian menunjukkan bahwa Presiden Megawati konsisten perlunya penataan hubungan sipil-militer yang baru, berbeda dengan masa sebelumnya (terutama di era Orde Baru, dan pasca krisis 1999-2000). Hal tersebut juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Presiden Megawati. Karena suatu bentuk penyesuaian terhadap hal-hal yang baru tidak mudah diimplememtasikan dalam waktu singkat dan diperlukan sosialisasi serta penyesuaian yang bersifat timbal balik. Namun, satu hal telah berani ditunjukkan oleh pemerintahan Presiden Megawati bahwa kalau di AS hubungan sipil dan polisi menjadi ‘kendali keamanan’ bagi masyarakat sipil umumnya, maka hal tersebut juga menjadi perhatian Indonesia. Intinya, Indonesia pun dapat melakukan sesuatu yang penting bagi hubungan sipil-militer.
Menunjang peran baru TNI maupun Polri tersebut, memang pemerintahan Presiden Megawati tampaknya cukup sibuk, karena berbagai ketentuan maupun perundangan mau tidak mau harus pula diwujudkan, disamping soal-soal yang terkait dengan logistik persenjataan yang perlu diperbaharui (mengingat banyak komponen Alutsista yang tidak layak lagi untuk dipertahankan). Dalam hal yang terakhir ini, merupakan hal yang cukup sulit bagi Indonesia untuk menyakinkan pihak-pihak di AS (para anggota Kongres maupun Senat) yang sejak kasus Peristiwa Berdarah di Dilli (1999) ‘makin memperketat’ embargo senjata terhadap Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, bagi pemerintahan Presiden Megawati bukanlah hal yang mudah, karena disamping harus menyakinkan pihak-pihak di AS – Indonesia juga tidak luput dari berbagai kasus pelanggaran HAM dan konflik di wilayah di Indonesia Timur (Poso, Palu, Maluku Utara, Papua Barat), dan wilayah Aceh. Ini berarti pula bahwa Presiden Megawati harus menghadapi tantangan dalam bentuk dua pihak sekaligus yaitu; konflik-konflik etnis di tingkat domestik yang meningkat pada pasca reformasi, dan tantangan diplomasi terhadap AS yang tidak ringan, dimana tidak saja harus melakukan respon tapi juga harus merebut simpati terutama pihak Kongres dan Senat di AS.
Oleh sebab itulah upaya reformasi hubungan sipil-militer semasa pemerintahan Presiden Megawati tidak hanya penting bagi konteks politik domestik, tapi hal itu menjadi basis utama agar image militer Indonesia di mata AS maupun negara-negara Barat lainnya makin baik. Menindaklanjuti upaya tersebut, Presiden Megawati mengunjungi AS seminggu setelah peristiwa ‘nine-eleven’ (11 September 2001), dan beliau merupakan pimpinan negara berkembang pertama yang bertemu dengan Presiden George Bush pasca kejadian itu. Begitu pula berbagai transaksi lobi dan pekerjaam public relations dengan mitra AS terus dilakukan sampai 2004 (termasuk dengan bekas senator AS, Bob Dole, Alston and Bird.
Upaya berbagai pihak di era Megawati tersebut akhirnya berbuah hasil, yaitu Collin Powell pada Januari 2005 mengatakan akan menawarkan suku cadang untuk pesawat militer C-130. Kendatipun tawaran AS tersebut muncul setelah terjadinya tsunami dahsyat di Aceh, namun pihak-pihak LSM pemerhati HAM di AS maupun dunia umumnya tetap mengecam kebijakan Powell tersebut dengan mengatakan tsunami seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mendukung militer Indonesia. Alhasil dari kasus C-130 tersebut upaya diplomasi semasa pemerintahan Presiden Megawati tidak langsung berbuah hasil, tapi justru baru terkabul setelah Megawati tidak lagi memerintah (Januari 2005).
Disamping kunjungan Presiden Megawati ke Washington pada pertengahan September 2001, Presiden George Bush Jr. Kembali bertemu dengan kepala negara Republik Indonesia tersebut pada 22 Oktober 2003 di Bali International airport, Bali Denpasar. Pertemuan tersebut kembali melahirkan Joint Press Availability antara kedua kepala negera tersebut. Presiden Megawati kembali menekankan beberapa poin penting dalam pembicaraan yang bersifat bilateral antara Indonesia-Amerika Serikat isu-isu yang penting dan mendapatkan perhatian bersama yaitu menyangkut terorisme, perkembangan demokrasi di Indonesia, dan dukungan Amerika terhadap militer Indonesia. Menanggapi pernyataan Presiden Megawati tersebut, Presiden George Bush tampaknya tidak keberatan dengan hal-hal yang menjadi perhatian Indonesia tersebut, dan secara umum dapat dikatakan terdapat kesamaan pandangan antar kedua negara dan atas poin-poin tersebut. Ini merupakan pertanda penting bahwa hubungan baik dan erat antar kedua negara perlu dilandasai oleh pandangan yang sama menyangkut respon terhadap teror.

Kesimpulan
Hal-hal diatas mengindikasikan bahwa baik pemerintah AS dibawah Presiden George Bush Jr dan Presiden Megawati sudah saling mengerti dan saling menunjang akan perlunya kerjasama yang lebih erat di berbagai bidang. Kendatipun Indonesia adalah penduduk Muslim terbesar di dunia dan negara nomor tiga yang menganut sistem politik demokrasi, namun kesamaan pandang dalam hal penanganan soal-soal teroris dan keamanan dalam arti luas, telah cukup memberikan dampak positif. Ini berarti bahwa pemerintahan Presiden George Bush Jr makin yakin, bahwa Islam, demokrasi, dan teroris bukan menjadi prioritas asumsi yang saling berhubungan dan tumbuh subur di Indonesia. Teroris memang masih ada di bumi Indonesia, namun pemimpin seperti Presiden Megawati tetap yakin dan konsisten bahwa Indonesia tidak pernah mau berkompromi dengan para teroris. Hal-hal tersebut merupakan makna penting bagi hubungan Indonesia dan Amerika Serikat pasca peristiwa ‘nine-eleven’.
 ..........................................................................................................................................................................
Referensi
Mas'oed, Mochtar. (1989). Studi Hubungan Internasional : Tingkat Analisis dan
         Teoritisasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
             Nye, Joseph. S. (1992). Memimpin Dunia, Sifat Kekuatan Amerika yang Berubah.   
         Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Wuryandari, G. (2008). Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik.  
         Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
...........................................................................................................................................................................

Senin, 22 Juni 2015

Prostitusi Bergerigi 2



               Sebuah tempat yang berada di tengah-tengah kota. Sebuah tempat yang sepuluh menit sekali kebisingan karena ada kereta api lewat. Sebuah tempat yang ‘katanya’ milik Raja Yogyakarta tetapi malah menjadi salah satu tempat lokalisasi termahsyur di kota ini. Gang panjang dengan tembok di kiri kanan akan mengantarkanmu sebelum sampai ke tempat lokalisasi. Mereka hidup berdampingan dan harmoni dengan masyarakat sekitar. Hidupku, hidupku. Hidupmu, hidupmu; mungkin kata-kata itu yang mereka pegang sehingga bisa harmonis sampai sekarang. Sekalipun tempat ini adalah tempat lokalisasi, mereka tidak melupakan kewajiban mereka dalam beragama, di sini ada sebuah masjid yang cukup besar dan megah. Semacam mawar merah yang tumbuh dalam padang sahara.
            “Silakan, masuk aja. Maaf tempatnya memang cuma segini,” kata Mbak Luna saat aku dan temanku, Baiq Rita, memasuki ruangan pelatihan.
            Ruangannya sekitar 3m x 4m mirip kos-kosan, tetapi dindingnya hanya terbuat dari triplek-triplek yang ditempeli spanduk bekas kampanye para eksekutif. Untuk meminimalkan rasa gerah, ada sebuah kipas angin mini yang berada di langit-langit dan setiap kipas berputar pasti berbunyi seperti detak jam berdenting. Ruang ini berdempet dengan warung-warung kecil punya warga, atau biasa mereka pakai sebagai tempat transit. Jaraknya dengan rel kereta api pun hanya kurang dari tiga meter. Pintunya terbuat dari bambu yang dilapisi terpal yang ketika kereta api lewat terpal itu berkibar bak sang Saka karena tertiup angin hembusan kereta api.
            “Selamat sore Ibu-ibu. Perkenalkan saya Bryan dan teman saya Baiq Rita dari UMY ingin berbagi sedikit ilmu kami tentang kepenulisan,” aku membuka forum ini dengan sangat gugup.
            Tiba-tiba seorang perempuan yang duduk di pojokan sambil bersender dan dengan muka sedikit cemberut memprotes.
            “Jangan panggil Ibu dong, mas! Panggil Mbak saja. Kan kami belum tua-tua!” celetuk wanita itu.
            Aku terkejut. Kesalahan pertama!
            “Jadi, hari ini kita akan belajar menulis tentang kehidupan Mbak-mbak dari kecil sampai sekarang terjun menjadi seorang pekerja seks komersial. Nantinya, tulisan-tulisan Mbak akan kami bukukan supaya masyarakat mengerti tentang keadaan pekerja seks komersial seperti Mbak-mbak ini dari kacamata Mbak sendiri. Tujuannya supaya tidak ada lagi kata diskriminasi untuk pekerjaan Mbak sebagai pekerja seks komersial,” kataku panjang lebar.
            Tiba-tiba ada yang tunjuk tangan lagi tanda ada pertanyaan, atau protes (lagi). Mati aku.
            “Mas, tolong kata komersialnya dihilangkan ya,” kata wanita itu.
            Kesalahan kedua!
            “Oh iya Mbak, maaf. Baiklah, sekarang mari kita menulis!” seruku menahan malu.
            Pertemuan pertama itu aku jalani dengan penuh kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya tak perlu terjadi. Ketakutanku yang pertama terjadi. Aku kurang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi mereka.
*bersambung*

Kamis, 11 Juni 2015

Kontes Robot Indonesia 2015 di Yogyakarta

            Yogyakarta menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) 2015 yang kegiatannya dipusatkan di gedung Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). KRI 2015 akan dilaksanakan mulai 11-14 Juni 2015. Peserta KRI 2015 ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terjauh bagian barat dari Medan, Sumatera Utara dan bagian timur dari Manado, Sulawesi Utara. Berikut ini foto-foto persiapan gedung Sportorium UMY dalam melaksanakan KRI 2015 :


















Sabtu, 16 Mei 2015

Prostitusi Bergerigi



“Gimana, Bry? Jadi mau ikutan, ga?” tanya Erwin.
“Gimana ya, Win? Aku masih bingung. Bahaya ga sih?” sahutku sambil tertawa.
“Aku tunggu sampai besok ya Bry jawabannya. Kalau mau ikut langsung kontak aku aja,” timpal Erwin.
Hari Rabu bulan September 2014 aku diajak teman seorganisasiku, Erwin Rasyid, mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa ke-28. Setahun sebelumnya aku juga pernah mengikuti program serupa, jadi aku tidak terlalu asing dengan nama programnya. Aku berpikir dua kali untuk mengiyakan ajakan Erwin karena tema yang diangkat di program Erwin ini. Temanya adalah ‘Advokasi Perempuan Pekerja Seks Melalui Citizen Journalism’. Perempuan Pekerja Seks? Sangat diluar bayanganku saat itu. Aku membayangkan jika aku menerima ajakan Erwin aku akan ‘bergaul’ dengan perempuan-perempuan pemanen dosa. Aku takut, sebagai pria normal, akan tergoda jika aku ‘bergaul’ dengan mereka. Aku membayangkan jika aku menerima ajakan Erwin, aku akan dicekoki minuman keras oleh mereka sehingga aku mabuk, lalu aku tidak sadarkan diri dan ketika bangun aku sudah berada di sebuah kamar dengan perempuan di sampingku. Aku terlalu terbuai dengan cerita-cerita murahan sinema televisi saat aku kecil yang hampir setiap hari aku tonton. Aku bimbang; ya atau tidak. 
Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan Erwin. Aku sedikit tak acuh padanya ketika bertemu. Aku malas bertemu dengannya karena pasti aku akan ditanyai lagi tentang ajakan dia kemarin.
“Hei, Bry! Gimana? Ya atau tidak?” akhirnya dia bertanya.
“Eh, Win! Hehehe. Gimana ya, Win? Aku bingung, Win,” sahutku.
“Kapan lagi bisa berkontribusi untuk masyarakat kalau ga sekarang Bry?! Kapan lagi bisa dekat dengan mereka-mereka? Selama ini kita hanya melihat mereka dari luarnya saja, kita belum pernah melihat apa yang sesungguhnya terjadi dibalik profesi mereka kan?” Erwin meyakinkanku.
Terkesiap aku mendengarnya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah mereka sengaja ingin berprofesi sebagai pemuas nafsu pria tidak tahu malu? Atau malah mereka berprofesi seperti itu karena terjebak dalam skenario konspirasi orang-orang biadab? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, aku iyakan ajakan Erwin. Toh nanti disana aku akan saling belajar dengan mereka tentang ilmu jurnalistik. Jadi, tidak akan ada kata mabuk-mabukan disana. Aku luruskan niatku untuk mencoba berbagi ilmuku tentang jurnalistik kepada mereka. Dengan menyebut nama Allaah yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
***
            Dua bulan berselang, proposal program kami –Aku, Erwin, Laila, Hilmi dan Dea— akhirnya disetujui oleh Direktorat Pendidikan Tinggi untuk kami laksanakan program kami di lokalisasi di sekitar kota Yogyakarta. Dana yang disetujui pun sekitar 95 % dari yang kami usulkan. Kami mulai merancang modul, perlengkapan, peralatan, dan segala kebutuhan kami untuk melaksanakan program yang tidak biasa ini. Bagaimana tidak? Selama sekitar tiga bulan kami akan bercokol di tempat lokalisasi yang sebelumnya membayangkannya saja tak pernah.
            Akan aku jelaskan sedikit inti dari program kami ini. Program ini adalah sebuah wadah advokasi untuk para Perempuan Pekerja Seks (PPS) melalui citizen journalism. Dimana di program ini kami akan mengajak para PPS ini untuk mengadvokasi diri melalui tulisan, baik itu berita, cerita, hingga dalam bentuk puisi sekalipun. Dengan cara ini, mereka diharapkan mampu membuka mata dan pikiran orang-orang di luar sana yang menganggap mereka hanya sampah masyarakat. Tetapi, sebenarnya mereka hanyalah korban dari orang-orang biadab yang hanya mengincar kenikmatan dan keuntungan untuk kantong mereka sendiri. Keluaran yang diharapkan dari program ini adalah buku yang sedang kalian pegang sekarang. Tulisan dalam buku ini adalah tulisan mereka sendiri, para PPS yang banyak mendapat celaan, cercaan, dan cemoohan dari masyarakat; mungkin termasuk Anda.
            Aku, Hilmi, dan Laila masing-masing ditugaskan menjadi pelatih PPS di tiga tempat lokalisasi yang telah dipilih : Ngebong, Giwangan, dan Pasar Kembang. Satu kali dalam seminggu selama satu bulan kami akan berkunjung ke masing-masing tempat itu untuk melakukan pelatihan jurnalistik. Kebetulan aku mendapatkan tempat yang cukup dekat dengan kosku : Ngebong. Laila di Pasar Kembang dan Hilmi di Giwangan. Sedangkan Erwin dan Dea akan menyiapkan acara launching bukunya. Aku gerogi. Bisakah aku? Apakah aku mampu untuk membawa suasana yang kondusif bersama dengan PPS yang dalam pikiranku saja aku takut dengan mereka.
***
bersambung~
Created By Sora Templates